Minggu, 08 Juni 2014

Surat Kecil Untuk Kamu

Hai.

Malam ini sepi, sama seperti malam-malam kemarin, dan mungkin juga sama untuk malam yang akan datang. Orang yang lagi dalam suatu hubungan pasti gak akan kesepian untuk kesekian kalinya. Sementara yang emm jomblo, ya sepi. 

Kali ini, aku mau memberikan sebuah surat kecil untuk dia. Ya, dia yang sudah pernah singgah dalam hidupku meski cuma sesaat. Dia, yang, terlalu sulit untuk didefinisikan.

Hai kamu.

Iya kamu. Kamu yang gatau sekarang lagi ada dimana. Bagaimana kabarmu? Apakah baik-baik saja? Adakah hal-hal menarik yang terjadi pada dirimu akhir-akhir ini? Semoga kamu selalu baik dimanapun kamu berada.

Awalnya aku bingung harus menulis apa di surat kecil ini. Terlalu banyak yang ingin dikatakan sampai membuatku bingung. Akhirnya kuputuskan bahwa tulisan kali ini, adalah tulisan terakhirku yang berhubungan dengan kamu. Aku janji. 

Kamu. Yang sudah pernah mengisi hari-hari ku selama kurang lebih 1 tahun 6 bulan. Yang pernah memberiku sebatang cokelat putih di atas kendaraanmu. Yang pernah menraktirku mendem duren. Yang pernah menyampirkan jaket di bahuku kala hujan tengah berlangsung.

Sempat terbesit dalam pikiranku, aku menyesal telah memulai sebuah kedekatan denganmu. Tapi aku tahu, Tuhan tahu, alam semesta tahu, semua hal yang sudah pernah kita lakukan tidak boleh disesali. 

Ketika aku memulainya, aku tak pernah terpikir bahwa kemungkinan hal seperti ini akan terjadi. Setidaknya, tidak padaku. Semua baik-baik saja pada awalnya. Aku hanya sebatas mengagumimu sebagai teman sekelasku yang begitu pandai dalam segala mata pelajaran. Lambat laun, perasaan mengagumi itu berubah menjadi perasaan suka. Aku juga tidak tahu kapan persisnya perasaan itu mulai berubah. Semua diluar kuasaku. Tapi saat itu aku masih tahu diri untuk tidak menyukaimu terlalu dalam karena aku tahu betapa berbedanya aku dan dirimu. 

Semua berubah ketika aku duduk sebangku denganmu. Kau begitu baik padaku. Memberi tahuku mengenai rumus yang kurang kumengerti. Meminjamiku peralatan tulismu ketika aku lupa untuk membawa peralatan tulisku sendiri. Dan tetap tersenyum ramah ketika aku lupa mengembalikannya. Hingga akhirnya aku mendapatkan nomor teleponmu. Langsung darimu. Aku tidak tahu apa yang membuatku kala itu begitu berani untuk langsung memintanya darimu. 

Singkat cerita, akhirnya kuberanikan diriku untuk duluan mengirimimu sebuah pesan teks. Akhirnya kita saling mengirim pesan teks selama beberapa waktu. Sampai pada fakta bahwa aku tahu kau juga menyukaiku. Perasaanku terbalas. Perempuan mana yang tidak senang jika perasaannya terbalaskan oleh lelaki yang disukainya?

Aku suka kamu. Kamu suka aku. Kita berdua tahu itu. Namun kita tidak mengikatnya dalam satu hubungan. Kita mungkin menyebutnya sebuah hubungan tanpa status. Pahit memang, tapi itulah kenyataan yang ada di depan mata. 

Waktu berlalu begitu cepat. Kita melauinya bersama-sama. Suka, duka, senang, sedih kita bagi bersama. Kau memberi yang terbaik yang bisa kau berikan kepadaku untuk membuatku bahagia. Dan, ya, aku bahagia. 

Tidak ada lagi yang kupikirkan saat itu selain kesenangan bersamamu. Bahkan, ujian akhir pun aku tidak terlalu menganggapnya sebagai beban. 

Waktu merangkak cepat dan akhirnya kita berhasil lulus dari kehidupan menengah pertama. kita. Disinilah semua masalah berawal mula. Kau meninggalkanku ketika aku tengah membutuhkan dirimu, ketika aku membutuhkan semangat darimu. Kau datang sebentar dan kemudian pergi lagi untuk waktu yang lama.. Hingga aku sampai tidak tahu berapa lama kita tidak saling memberi kabar. Hingga kini, kita tak lagi saling memberi kabar satu sama lain. Mungkin, mencoba pun tidak.

Kini, semua berbeda. Tidak ada lagi bunyi telepon genggam yang membangunkanku ketika pagi datang. Tidak ada ucapan selamat makan, selamat tidur, dan hal-hal remeh lainnya. Awalnya aku tidak terbiasa, namun aku harus tahu, bahwa aku harus belajar menerima itu semua. Menerima dirimu yang tidak lagi di sisiku. 

Teman-temanku terkadang datang membawa berita tentangmu, berita yang tidak kudengar langsung darimu. Mereka bercerita layaknya semua baik-baik saja. Benar saja, mereka kan tidak tahu apa yang terjadi di antara kita. 

Kali ini, aku ingin mengucapkan dua kata yang sedari dulu ingin kukatakan padamu. Maaf dan terimakasih. Maaf untuk semua kesalahan yang pernah kulakukan padamu, maaf membuatmu kerepotan, maaf jika aku pernah membuatmu menangis. Haha mungkin yang terakhir tidak pernah. Yang terpenting, aku minta maaf atas sikapku selama ini yang terlalu norak atau apalah ketika bersamamu. Kata-kataku atau apapun yang membuatmu tidak nyaman ketika bersamaku. 

Dan, terimakasih. Terimakasih karena pernah menyapukan warna-warni indah pada hari-hari ku. Terimakasih karena telah pernah menyayangiku, memberiku sejumput kasih sayang darimu. Terimakasih untuk semuanya. Tawa ini, tangis ini, kesedihan ini. Semuanya darimu. Terimakasih atas pemberian yang berharga yang bisa kujadikan sebuah pelajaran dalam hidupku. At least, kau pernah membuatku bahagia. 

Setelah semua ini, aku tahu bahwa aku harus melupakan semuanya dan move on. Melanjutkan hidup dengan atau tanpa seseorang di sampingku. Move on. Even if it takes the rest of my life, I'll do it. 

Akhirnya kita sampai di penghujung cerita. Maaf jika surat ini terlalu panjang untukmu, padahal aku berjanji di awal bahwa surat ini tidak akan panjang. Maaf aku meningkari janjiku.

Jika nanti kita bertemu lagi di kehidupan yang akan datang, aku berharap tidak ada dendam dan permusuhan di antara kita.

Sekali lagi, terimakasih untuk semuanya, Boby Rusdyanto. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar